Dr. H. Basnang Said dan KH. Azis Syafiuddin Soroti Masa Depan Pendidikan Al-Qur’an di Jawa Barat

BANDUNG — Penguatan kualitas pendidikan Al-Qur’an dinilai tidak dapat dilepaskan dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang menjadi penggeraknya. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Standarisasi, Sertifikasi Nasional dan Training of Trainer (TOT) Muallim Al-Qur’an Tingkat Provinsi Jawa Barat yang digelar LPQQ Indonesia di Aula Kampus Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung, Minggu (9/8/2026).

Sekitar 600 muallim dan muallimah dari berbagai daerah di Jawa Barat mengikuti kegiatan tersebut. Forum ini tidak sekadar menjadi ajang sertifikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca tantangan pendidikan agama Islam sekaligus menyiapkan tenaga pendidik Al-Qur’an yang lebih kompeten.

Salah satu narasumber utama, Direktur Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Basnang Said, M.Ag., mengawali sesi dengan menyampaikan materi mengenai Indeks Pendidikan Agama Islam Tahun 2025–2026.

Basnang Said: Kualitas Pendidikan Dimulai dari SDM

Basnang menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu unsur penting dalam membangun pendidikan agama Islam yang mampu menjawab perubahan zaman.

 

Menurutnya, pendidikan agama tidak cukup hanya dilihat dari keberadaan lembaga dan aktivitas pembelajaran. Kualitas proses pendidikan juga harus menjadi perhatian, termasuk kompetensi pendidik, sistem pembelajaran, serta kemampuan lembaga dalam melakukan evaluasi dan pengembangan secara berkelanjutan.

Dalam konteks pendidikan Al-Qur’an, posisi muallim menjadi sangat penting karena mereka berhadapan langsung dengan masyarakat dan peserta didik.

Karena itu, peningkatan kompetensi muallim melalui proses standarisasi, pelatihan, dan sertifikasi dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kualitas pendidikan Al-Qur’an.

Paparan tersebut memberikan perspektif yang lebih luas kepada ratusan peserta mengenai posisi pendidikan agama Islam dalam perkembangan pendidikan nasional sekaligus tantangan yang harus dihadapi para pendidik di masa mendatang.

KH. Azis Syafiuddin: TPQ Tak Bisa Berjalan Tanpa SDM yang Kuat

Persoalan lain yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut disampaikan KH. Azis Syafiuddin, M.Si., melalui materi bertajuk “Tantangan TPQ dan SDM.”

KH. Azis menyoroti tantangan yang dihadapi Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), terutama dalam menghadapi perubahan sosial dan perkembangan kebutuhan masyarakat.

TPQ, menurutnya, memiliki posisi strategis dalam memberikan pendidikan dasar Al-Qur’an kepada masyarakat. Namun, keberlanjutan dan kualitas TPQ sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.

Muallim dan muallimah dituntut tidak hanya memiliki kemampuan dalam membaca dan mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahami karakter peserta didik, mengembangkan metode pembelajaran, serta beradaptasi dengan tantangan pendidikan di era modern.

Karena itu, penguatan SDM menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun TPQ yang berkualitas.

Pesan KH. Azis tersebut menjadi relevan dengan semangat kegiatan LPQQ Indonesia yang menempatkan standarisasi dan sertifikasi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas para muallim Al-Qur’an.

LPQQ Dorong Pembelajaran Al-Qur’an yang Terstandar

Ketua Umum LPQQ Indonesia, KH. Mahbub Sholeh Zarkasyi, dalam kegiatan tersebut turut memberikan sambutan sekaligus materi mengenai “Metode Pembelajaran Klasikal pada KBMA.”

Ia menekankan pentingnya sistem pembelajaran yang terstruktur dalam proses pengajaran Al-Qur’an. Menurutnya, pembelajaran klasikal dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menciptakan proses belajar yang lebih sistematis dan efektif.

KH. Mahbub juga menegaskan komitmen LPQQ Indonesia untuk terus memperkuat kompetensi para muallim melalui program standarisasi, sertifikasi, dan Training of Trainer.

Kegiatan tersebut dihadiri KH. Mahbub Sholeh Zarkasyi bersama Sekjen LPQQ Indonesia Ust. Ibrahim beserta jajaran pengurus.

Bukan Sekadar Sertifikat

Dengan jumlah peserta mencapai sekitar 600 muallim dan muallimah, kegiatan di Bandung ini menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap peningkatan kualitas tenaga pendidik Al-Qur’an di Jawa Barat.

Lebih dari sekadar memperoleh sertifikat, para peserta diharapkan membawa pulang pengetahuan, standar kompetensi, dan pola pembelajaran yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Pesan yang mengemuka dari forum tersebut pun memiliki benang merah yang sama: pendidikan Al-Qur’an membutuhkan muallim yang berkualitas, sistem pembelajaran yang terstandar, dan lembaga yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dari Bandung, LPQQ Indonesia kembali menegaskan ikhtiarnya untuk memperkuat ekosistem pendidikan Al-Qur’an sekaligus memperluas gerakan pengentasan buta aksara Al-Qur’an di Indonesia.

Dr. H. Basnang Said dan KH. Azis Syafiuddin Soroti Masa Depan Pendidikan Al-Qur’an di Jawa Barat*

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *